Sastra kembali menegaskan posisinya sebagai penanda zaman. Melalui kurasi tahunan Buku Sastra Pilihan Tempo 2025, Tempo menghadirkan karya-karya yang tak sekadar menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga keberanian membaca kegelisahan manusia, luka sosial, hingga pencarian makna hidup. Lima buku prosa dan lima buku puisi terpilih menunjukkan wajah sastra Indonesia yang reflektif, liar, sekaligus intim.
Kategori Prosa
Novel ini menyuguhkan kisah yang getir sekaligus satir tentang relasi kuasa, moralitas, dan kemunafikan sosial. Dengan gaya penceritaan yang tajam dan simbolik, Ajengan Anjing mengajak pembaca menelusuri sisi gelap manusia melalui tokoh-tokoh yang bergerak di antara iman, kekerasan, dan naluri primitif.
2. Ikhtiar Yang Tak Benar-Benar
Buku ini merekam kegagalan-kegagalan kecil manusia dalam menjalani hidup. Alih-alih menawarkan jawaban, novel ini justru menghadirkan keraguan sebagai ruang kontemplasi. Bahasa yang lirih dan alur yang reflektif menjadikan karya ini terasa personal sekaligus universal.
3. Katri
Lewat tokoh perempuan bernama Katri, novel ini menyingkap persoalan identitas, ingatan, dan trauma. Ceritanya mengalir pelan namun menghantui, memperlihatkan bagaimana masa lalu terus membentuk cara seseorang memandang dirinya dan dunia.
4. Tersesat Setelah Terlahir Kembali
Novel ini bermain dengan gagasan spiritualitas dan eksistensialisme. Kelahiran kembali bukan menjadi titik terang, melainkan justru awal dari kebingungan baru. Dengan narasi eksperimental, buku ini mempertanyakan makna hidup, iman, dan arah manusia modern.
5. Waktu Itu Hujan Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri
Judul yang puitik ini sejalan dengan isi ceritanya. Novel ini menangkap kesepian sebagai pengalaman manusia yang paling jujur. Dengan latar keseharian yang sederhana, pembaca diajak menyelami rasa terasing yang sering kali tak terucap.
Kategori Puisi
Kumpulan puisi ini penuh energi dan kemarahan sosial. Bahasa yang keras dan imaji yang liar menjadi medium kritik terhadap ketidakadilan, kekerasan, dan keterasingan manusia di tengah sistem yang menekan.
2. Bread Roses
Puisi-puisi dalam buku ini menyuarakan perjuangan hidup, cinta, dan martabat manusia. Judulnya merujuk pada simbol perlawanan kelas pekerja, yang diolah menjadi sajak-sajak lembut namun sarat makna politis dan kemanusiaan.
Buku puisi ini merefleksikan sejarah, ingatan kolektif, dan makna revolusi di masa kini. Penyair menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa sekarang, mempertanyakan apa yang masih tersisa dari cita-cita perubahan.
Dengan gaya rubaiyat yang khas, buku ini memadukan filsafat hidup, humor halus, dan kritik sosial. Puisi-puisinya ringkas namun menggugah, mengajak pembaca merenungi hidup dengan jarak dan kebijaksanaan.
5. Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan
Kumpulan puisi ini bergerak di persimpangan sains, filsafat, dan kemanusiaan. Pertanyaan tentang pengetahuan, batas rasionalitas, dan makna hidup diramu dalam bahasa yang reflektif dan imajinatif.
Melalui Buku Sastra Pilihan Tempo 2025, sastra Indonesia menunjukkan vitalitasnya: berani bersuara, jujur pada luka, dan setia pada pencarian makna. Prosa dan puisi tak hanya menjadi karya baca, tetapi juga cermin zaman yang terus bergerak.
