Sejarah perlawanan tak hanya dicatat lewat monumen dan arsip negara, tetapi juga melalui buku-buku yang lahir dari keberanian berpikir dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Sejumlah karya sastra dan sejarah berikut menjadi saksi bagaimana perlawanan terhadap kolonialisme, penindasan, dan ketidakadilan sosial dirawat melalui kata-kata. Buku-buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan dokumen perlawanan yang hidup lintas generasi.
Tetralogi Buru merupakan mahakarya Pramoedya Ananta Toer yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Ditulis saat Pramoedya menjalani pembuangan di Pulau Buru, karya ini pertama kali terbit antara 1980–1988 oleh Hasta Mitra.
Novel ini menggambarkan kebangkitan kesadaran nasional melalui tokoh Minke, sekaligus memotret struktur kolonial yang menindas pribumi. Tetralogi ini penting karena memperlihatkan perlawanan melalui pendidikan, pers, dan pemikiran modern di masa Hindia Belanda.
2. Max Havelaar
Max Havelaar ditulis oleh Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker) dan pertama kali terbit pada 1860 di Belanda. Buku ini diterbitkan oleh J. de Ruyter dan menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme.
Novel ini mengkritik keras sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di Hindia Belanda dan membuka mata publik Eropa atas penderitaan rakyat jajahan. Max Havelaar sering disebut sebagai pemicu lahirnya Politik Etis.
3. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia
Buku ini merupakan karya Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia pertama kali diterbitkan pada 1954 dan memuat refleksi serta analisis Hatta tentang perjuangan diplomasi dan politik Indonesia pasca-proklamasi.
Buku ini penting karena menyajikan sudut pandang pelaku sejarah langsung mengenai strategi, tantangan, dan dinamika perjuangan kemerdekaan Indonesia.
4. Gelombang Perlawanan Rakyat
Gelombang Perlawanan Rakyat ditulis oleh Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkemuka Indonesia, dan pertama kali terbit pada 1984 oleh Pustaka Jaya. Buku ini mengkaji berbagai gerakan sosial dan pemberontakan rakyat dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sartono menempatkan rakyat sebagai subjek sejarah, bukan sekadar pelengkap narasi elit, menjadikan buku ini rujukan penting dalam historiografi Indonesia.
Buku Perlawanan Akar Rumput karya Kuntowijoyo diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 1993. Karya ini membahas bentuk-bentuk perlawanan masyarakat kecil terhadap dominasi kekuasaan, baik kolonial maupun feodal.
Dengan pendekatan sejarah sosial, Kuntowijoyo menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu bersenjata, melainkan juga hadir dalam budaya, agama, dan praktik sehari-hari rakyat.
Sabit dan Api ditulis oleh Hilmar Farid dan pertama kali diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada 2012. Buku ini membahas dinamika gerakan kiri dan politik massa di Indonesia sebelum 1965.
Melalui pendekatan sejarah kritis, Hilmar mengurai hubungan antara ideologi, organisasi rakyat, dan negara, sekaligus membuka ruang diskusi tentang sejarah yang lama terpinggirkan.
Buku-buku perlawanan ini menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah tunggal. Melalui sastra dan kajian sejarah, perlawanan dicatat, diperdebatkan, dan diwariskan—menjadi pengingat bahwa keberanian berpikir dan bersuara adalah bagian penting dari perjalanan bangsa.

🔥🔥
BalasHapus