Krisis Keteladanan: Menjaga Marwah Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan Berbasis Tradisi

Kepemimpinan yang Kehilangan Arah: Kritik terhadap Otoritarianisme dan Nepotisme dalam Struktur Kepengurusan Pondok Pesantren. Foto / Pinterest.

Pesantren merupakan institusi yang berdiri di atas pilar nilai-nilai moral dan spiritual. Dalam ekosistem ini, kepemimpinan bukanlah sekadar hierarki administratif, melainkan sebuah bentuk uswatun hasanah (keteladanan yang baik). Namun, belakangan ini muncul tantangan serius ketika esensi kepemimpinan tersebut mulai tergerus oleh gaya manajerial yang eksklusif dan feodalistik.

Jebakan Dinasti dan Privilese Struktural

Salah satu tantangan terbesar dalam organisasi berbasis tradisi adalah suksesi yang hanya mengandalkan garis keturunan tanpa dibarengi dengan kompetensi dan integritas. Ketika posisi strategis diberikan sebagai "warisan", risiko munculnya pemimpin yang berjarak dengan realitas bawah menjadi sangat besar.

Pemimpin yang tidak hadir secara emosional dan fisik di tengah anggotanya—atau yang hanya hadir untuk formalitas tanpa bimbingan nyata—akan menciptakan kekosongan wibawa. Kepemimpinan jarak jauh ini sering kali menyamarkan ketidakmampuan manajerial dengan dalih "pengawasan", padahal yang terjadi adalah hilangnya kontrol terhadap dinamika internal organisasi.

Bahaya Nepotisme dan Fragmentasi Sosial

Kepemimpinan yang bersandar pada "politik kedekatan" atau nepotisme internal sangat merusak semangat kolektivitas. Jika loyalitas diukur dari seberapa dekat seseorang secara personal dengan pemimpin, bukan berdasarkan kinerja, maka akan lahir ketidakadilan sistemik.

• Eksklusivitas Keputusan: Ketika kebijakan diambil hanya melalui lingkaran kecil (inner circle) tanpa musyawarah terbuka, transparansi organisasi akan runtuh.

• Demotivasi Pengurus: Anggota yang berkomitmen tinggi namun berada di luar lingkaran tersebut akan merasa teralienasi, yang pada akhirnya memicu sikap apatis.

Diskriminasi Intelektual dan Kekakuan Berpikir

Sikap skeptis terhadap anggota yang aktif di organisasi luar (seperti organisasi mahasiswa) menunjukkan kegagalan pemimpin dalam memahami dinamika zaman. Seharusnya, keterlibatan anggota dalam dunia aktivisme dipandang sebagai aset yang memperkaya wawasan lembaga, bukan dianggap sebagai ancaman terhadap loyalitas. Pemimpin yang merasa terancam oleh dinamika intelektual anggotanya cenderung akan bersikap otoriter untuk mempertahankan status quo.

Mengembalikan Marwah Pesantren

Dalam perspektif etika kepemimpinan, kekuasaan adalah amanah yang menuntut keadilan bagi semua pihak. Pemimpin yang ideal adalah mereka yang mampu mendengar, merangkul perbedaan, dan berdiri di atas kepentingan semua golongan.

Jika pola kepemimpinan otoriter dan nepotis terus dibiarkan dalam lembaga pendidikan, dampaknya tidak hanya merusak struktur organisasi saat ini, tetapi juga mewariskan budaya mental yang salah bagi generasi mendatang. Menyelamatkan marwah pesantren berarti berani mengembalikan fungsi pemimpin sebagai pelayan umat (khadimul ummah), bukan sebagai penguasa yang mencari kenyamanan pribadi di atas keringat pengabdian orang lain.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama