![]() |
| Tan Malaka, salah satu pemikir radikal awal Indonesia, dalam potret arsip kolonial yang merekam tubuh, namun tak pernah sepenuhnya menangkap pikirannya. Sumber: Wikimedia Commons (Public Domain) |
Tan Malaka adalah paradoks dalam sejarah Indonesia: revolusioner yang diakui sebagai pahlawan nasional, tetapi lama disingkirkan dari ingatan kolektif. Seorang bapak republik yang tak pernah benar-benar pulang ke tanah air yang ia perjuangkan.
Tan Malaka: Revolusioner Tanpa Makam
Pada Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi secara diam-diam di daerah Selopanggung, Kediri. Tak ada pengadilan terbuka, tak ada upacara, bahkan tak ada pusara yang jelas. Hingga kini, keberadaan makamnya masih menjadi perdebatan. Kematian Tan Malaka bukan sekadar akhir hidup seorang tokoh pergerakan, melainkan simbol bagaimana negara memperlakukan ide-ide yang dianggap terlalu radikal. Ia gugur bukan di tangan penjajah, melainkan dalam konflik internal republik yang baru lahir—sebuah tragedi yang menyingkap rapuhnya fondasi persatuan saat itu.
Bapak Republik yang Tak Pernah Pulang
Sejak muda, Tan Malaka lebih banyak hidup di pengasingan ketimbang di tanah air. Ia berpindah dari Belanda, Jerman, Uni Soviet, Tiongkok, hingga Asia Tenggara. Hidup dengan nama samaran, dikejar intel kolonial, dan selalu berada di tepi bahaya. Ironisnya, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Tan Malaka justru berada di luar lingkar kekuasaan. Ia pulang tanpa sambutan, tanpa posisi, dan tanpa jaminan keselamatan. Republik yang ia impikan sejak lama ternyata tumbuh dengan arah yang tak selalu sejalan dengan gagasannya.
Madilog: Buku yang Lebih Berbahaya dari Senjata
Di tengah pelarian dan pengasingan, Tan Malaka menulis Madilog—akronim dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Buku ini bukan sekadar karya filsafat, melainkan manifesto pembebasan berpikir. Tan Malaka mengkritik keras cara berpikir mistis dan feodal yang, menurutnya, menghambat kemajuan bangsa. Madilog mengajak rakyat untuk berpikir rasional, ilmiah, dan kritis terhadap kekuasaan. Tak heran jika buku ini lama dicurigai, dilarang, dan disisihkan. Dalam rezim tertentu, Madilog dianggap lebih berbahaya daripada senjata, karena ia menumbuhkan kesadaran.
Tan Malaka vs Sejarah Resmi Indonesia
Selama puluhan tahun, nama Tan Malaka nyaris lenyap dari buku pelajaran sejarah. Narasi resmi negara lebih memilih figur-figur yang sejalan dengan kekuasaan. Tan Malaka, dengan latar kiri dan pemikiran radikalnya, dianggap ancaman bagi stabilitas politik. Baru setelah Reformasi, upaya merehabilitasi Tan Malaka mulai muncul. Namun, pemulihan itu belum sepenuhnya tuntas. Ia diakui sebagai pahlawan nasional, tetapi gagasannya masih kerap dipinggirkan. Sejarah resmi tampaknya lebih nyaman merayakan simbol, ketimbang membicarakan pikiran yang mengganggu.
Sendirian Melawan Zaman
Tan Malaka bukan tokoh yang mudah diajak kompromi. Ia kerap berbeda pandangan dengan sesama pejuang, bahkan dengan pemimpin republik sendiri. Sikap keras kepala dan konsistensi ideologisnya membuatnya sering terisolasi. Namun, justru di situlah letak keberaniannya. Tan Malaka memilih kesepian ketimbang mengkhianati keyakinan. Ia sadar, melawan penjajahan tidak cukup dengan mengganti penguasa, tetapi harus membongkar struktur ketidakadilan yang lebih dalam.
Tan Malaka dan Mimpi Indonesia yang Radikal
Bagi Tan Malaka, kemerdekaan bukan sekadar pengakuan internasional atau pengibaran bendera. Ia memimpikan Indonesia yang merdeka seratus persen—berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan bebas secara berpikir. Mimpi itu terdengar radikal, bahkan hingga hari ini. Ketika ketimpangan sosial masih menganga dan kekuasaan kerap menjauh dari rakyat, gagasan Tan Malaka kembali relevan. Pertanyaannya bukan lagi apakah Tan Malaka terlalu radikal, melainkan apakah republik ini cukup berani menghadapi kritik dari pendirinya sendiri.
Tan Malaka boleh tak memiliki makam yang pasti, tetapi gagasannya terus hidup dalam pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh republik. Selama keadilan sosial masih menjadi janji, selama kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan rakyat, nama Tan Malaka akan selalu menemukan jalannya untuk kembali dibicarakan. Dan mungkin, di situlah makam sejatinya: di dalam ingatan, perdebatan, dan keberanian untuk berpikir merdeka.
