Mahbub Djunaidi: Menertawakan Kekuasaan, Merawat Akal Sehat Bangsa

Mahbub Djunaidi: Menertawakan Kekuasaan, Merawat Akal Sehat Bangsa. Foto/Pinterest.


Ada orang-orang yang melawan kekuasaan dengan teriak dan kepalan tangan. Ada pula yang memilih senyum tipis, satire halus, dan kalimat-kalimat yang pelan tapi menghantam. Mahbub Djunaidi berada di golongan kedua. Ia menulis seolah sedang bercanda, padahal sesungguhnya sedang menguliti kekuasaan, kemunafikan, dan kebodohan yang dibungkus wibawa.

Mahbub Djunaidi dikenal sebagai jurnalis, kolumnis, dan pemikir Muslim yang menempatkan akal sehat sebagai panglima. Gaya tulisannya ringan, jenaka, kadang terasa nakal, tetapi selalu menyimpan kedalaman refleksi. Di tengah iklim politik yang sering tegang dan hitam-putih, Mahbub hadir sebagai suara yang menyejukkan sekaligus menyengat.

Ketua PMII Dua Periode

Nama Mahbub Djunaidi memiliki tempat penting dalam sejarah PMII. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PMII selama dua periode, sebuah capaian yang menunjukkan kepercayaan besar kader terhadap kepemimpinannya. Di masa kepemimpinannya, PMII tidak hanya diposisikan sebagai organisasi kaderisasi mahasiswa, tetapi juga sebagai ruang latihan berpikir kritis, berdebat secara sehat, dan merawat nalar kebangsaan. Mahbub mendorong PMII agar tidak terjebak pada militansi kosong, melainkan melahirkan kader yang berani berpikir, menulis, dan bersikap dengan tanggung jawab intelektual.

Pengalaman memimpin PMII inilah yang kelak membentuk karakter Mahbub sebagai intelektual publik: kritis tanpa beringas, berani tanpa kehilangan humor, dan religius tanpa anti terhadap perbedaan.

NU, Intelektualitas, dan Sikap Kritis

Selain PMII, Mahbub Djunaidi juga aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal sebagai salah satu intelektual NU yang progresif dan terbuka, mampu menjembatani tradisi keislaman dengan pemikiran modern. Di lingkaran NU, Mahbub sering tampil sebagai sosok yang tidak sungkan mengkritik, baik terhadap kekuasaan negara maupun terhadap kecenderungan jumud di internal umat. Baginya, kesetiaan pada tradisi tidak berarti mematikan akal sehat. Justru tradisi harus dirawat dengan dialog dan keterbukaan.

Karya-Karya dan Warisan Pemikiran

Sebagian besar karya Mahbub Djunaidi dikenal melalui kumpulan esai dan kolom. Tulisan-tulisannya kemudian dibukukan dan menjadi bacaan penting bagi generasi muda, aktivis, dan jurnalis. Di antaranya yang paling dikenal adalah:

Kolom-kolom esai politik dan kebudayaan yang merekam denyut zaman Orde Lama hingga Orde Baru.

Tulisan-tulisan reflektif tentang Islam, kebangsaan, demokrasi, dan kebebasan berpikir, yang hingga kini masih relevan dibaca.

Mahbub tidak banyak menulis buku tebal dengan teori rumit. Kekuatan utamanya justru terletak pada esai pendek yang menggugah, mengajak pembaca merenung tanpa merasa sedang diajari.

Penghargaan dan Pengakuan

Atas kontribusinya di dunia jurnalistik dan pemikiran, Mahbub Djunaidi menerima berbagai penghargaan, baik dari kalangan pers maupun komunitas intelektual. Namun, bagi Mahbub, pengakuan bukanlah tujuan utama. Ia lebih dikenal sebagai penulis yang setia pada nurani dan akal sehat, bahkan ketika itu berarti berdiri di posisi yang tidak populer.

Humor, Iman, dan Keberanian Berpikir

Salah satu warisan terbesar Mahbub Djunaidi adalah teladan bahwa beragama tidak harus kehilangan humor, dan berpikir kritis tidak harus kehilangan iman. Ia menunjukkan bahwa Islam bisa berdampingan dengan kebebasan berpikir, keterbukaan, dan keberanian mengkritik diri sendiri.

Mahbub Djunaidi wafat pada 17 November 1995. Namun, gagasan dan gaya berpikirnya terus hidup dalam tulisan-tulisan yang masih sering dikutip, dibaca ulang, dan dirindukan. Di tengah iklim publik yang kembali mudah tersinggung dan gemar saling menuding, warisan Mahbub terasa semakin relevan: menertawakan kekuasaan, merawat akal sehat, dan tetap manusiawi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama