![]() |
"Hasta la Victoria Siempre." — Sosok ikonik Che Guevara yang mendefinisikan sebuah era revolusi. / Sumber: Wikimedia Commons, René Burri / Magnum Photos |
Wajah berjenggot dengan tatapan tajam itu barangkali menjadi salah satu citra paling dikenal di dunia. Dicetak di kaos, poster, mural jalanan, hingga unggahan media sosial, Che Guevara hidup jauh melampaui raganya. Ia tak sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol—tentang perlawanan, keberanian, dan mimpi akan dunia yang lebih adil. Namun di balik romantisme itu, Che juga menyimpan kontroversi yang tak pernah tuntas diperdebatkan. Che Guevara bukan sekadar nama, melainkan medan tafsir. Ada yang memujanya sebagai pejuang kemanusiaan, ada pula yang mengkritiknya sebagai revolusioner yang menghalalkan kekerasan. Feature ini mencoba membaca Che secara lebih jernih: tidak memutihkannya, tetapi juga tidak menenggelamkannya dalam stigma hitam.
Dari Ruang Medis ke Medan Revolusi
Ernesto “Che” Guevara lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928. Ia menempuh pendidikan kedokteran, sebuah fakta yang kerap luput ketika Che direduksi semata sebagai gerilyawan. Penyakit asma yang dideritanya sejak kecil justru menempanya menjadi pribadi keras dan disiplin. Perjalanan panjang melintasi Amerika Latin bersama Alberto Granado—yang kemudian dikenal lewat The Motorcycle Diaries—menjadi titik balik kesadarannya. Di hadapan kemiskinan, eksploitasi buruh, dan ketimpangan struktural yang ia saksikan langsung, Che sampai pada satu kesimpulan: ketidakadilan bukan sekadar masalah moral, tetapi persoalan sistem. Dari sinilah idealisme Che berakar. Ia percaya, perubahan radikal hanya mungkin melalui revolusi.
Revolusi Kuba dan Lahirnya Seorang Simbol
Pertemuan Che dengan Fidel Castro di Meksiko menjadi babak penting sejarah Amerika Latin. Bersama gerakan 26 Juli, Che terlibat langsung dalam Revolusi Kuba yang berhasil menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada 1959. Di Kuba, Che tidak hanya menjadi komandan militer, tetapi juga pejabat negara: Menteri Perindustrian dan Presiden Bank Sentral. Peran ini menunjukkan sisi lain Che—seorang pemikir ekonomi dan ideolog yang percaya pada pembentukan “manusia baru”, sosok yang bekerja bukan demi materi, melainkan demi kesadaran kolektif. Namun justru di fase inilah kritik mulai mengeras. Kebijakan ekonomi Che dinilai utopis dan tidak efisien. Revolusi yang romantis di medan perang ternyata jauh lebih rumit ketika berhadapan dengan realitas pemerintahan.
Idealisme, Senjata, dan Dilema Moral
Che meyakini bahwa kekerasan revolusioner adalah alat historis yang sah untuk menghancurkan sistem penindasan. Pandangan ini menempatkannya pada posisi dilematis: di satu sisi ia memperjuangkan kemanusiaan, di sisi lain ia terlibat dalam eksekusi politik terhadap lawan-lawan revolusi. Bagi para pendukungnya, tindakan Che harus dibaca dalam konteks perang dan kolonialisme. Sementara bagi para pengkritiknya, hal itu tetap merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Di sinilah Che menjadi figur yang sulit dipuja secara utuh tanpa kritik, tetapi juga sulit ditolak tanpa memahami konteks zamannya. Che bukan malaikat, tetapi juga bukan monster seperti yang kerap digambarkan propaganda anti-komunis.
Dari Manusia Menjadi Mitos
Kematian Che di Bolivia pada 9 Oktober 1967 justru mengabadikannya. Dieksekusi dalam kondisi tak berdaya, tubuhnya dipamerkan ke publik—sebuah upaya membunuh simbol yang justru melahirkan legenda. Foto ikonik karya Alberto Korda mengubah Che menjadi citra global. Sejak itu, Che hidup di ruang yang paradoksal: simbol anti-kapitalisme yang diproduksi massal oleh industri kapitalis. Wajah yang dulu melawan pasar, kini dijual di etalase pasar. Ironi ini sering disebut sebagai “kekalahan terakhir” Che—ketika perlawanan direduksi menjadi gaya.
Che dan Anak Muda Hari Ini
Mengapa Che tetap relevan, terutama bagi anak muda? Barangkali karena Che menawarkan sesuatu yang langka di zaman sinis ini: keberanian untuk berpihak. Di tengah politik yang pragmatis dan ideologi yang cair, Che hadir sebagai sosok yang konsisten—bahkan sampai mati. Namun tantangannya adalah bagaimana membaca Che secara kritis, bukan sekadar memujanya. Che bukan ikon kosong untuk romantisme pemberontakan, melainkan teks sejarah yang harus dibaca, diperdebatkan, dan diuji relevansinya. Mengagungkan Che tanpa memahami gagasannya sama problematiknya dengan menolaknya tanpa memahami konteksnya.
Che Guevara adalah cermin. Ia memantulkan harapan, kemarahan, dan kegelisahan terhadap dunia yang timpang. Ia mengajarkan bahwa keberpihakan adalah pilihan etis, meski penuh risiko dan kontradiksi. Di era hari ini, mungkin kita tak lagi mengangkat senjata seperti Che. Namun pertanyaan yang ia tinggalkan tetap relevan: di tengah ketidakadilan, kita memilih netral—atau berpihak? Che mungkin telah mati, tetapi perdebatan tentangnya akan terus hidup. Dan di situlah, barangkali, revolusi paling jujur bermula: dari keberanian untuk terus bertanya.
Penulis: Muhammad Jazuli (Owner Nalar Merdeka)
