Di langit yang sama, dua doa melambung, namun arahnya saling memunggungi.
Dalam sujudku, aku menyebut namamu dengan penuh harapan.
Dalam sujudku, aku menyebut namamu dengan penuh harapan.
Aku meminta pada sang penguasa agar hati ibumu meluluh, agar ia bisa melihatku bukan hanya sebagai orang asing, melainkan sebagai rumah tempatmu pulang.
Aku merayu sang penguasa agar jarak antara restu dan cinta kita dikabulkan.
Namun, di sujud ibumu ada nama lain yang ia bisikkan.
Aku merayu sang penguasa agar jarak antara restu dan cinta kita dikabulkan.
Namun, di sujud ibumu ada nama lain yang ia bisikkan.
Ia meminta pada sang penguasa agar engkau dijauhkan dari "pilihan yang salah",
yang tak lain pilihan salah itu adalah aku.
Ia memohon agar engkau disatukan dengan seseorang yang menurut versinya akan menjamin ke bahagiaanmu.
Kini, aku menyadari bahwa aku tidak sedang bersaing dengan laki-laki pilihan ibumu.
Ia memohon agar engkau disatukan dengan seseorang yang menurut versinya akan menjamin ke bahagiaanmu.
Kini, aku menyadari bahwa aku tidak sedang bersaing dengan laki-laki pilihan ibumu.
Melainkan, aku sedang bersaing dengan doa seorang ibu yang telah menjagamu sejak dalam kandungannya.
Mungkin di detik ini
Mungkin di detik ini
dan seterusnya aku berhenti berdoa.
Bukan berarti aku berhenti mencintaimu, melainkan karena aku terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu kehilangan surga demi sebuah perasaan yang bernama asmara.
Saat ini, aku menyerah pada sang pencipta.
Saat ini, aku menyerah pada sang pencipta.
Biarlah sang pencipta yang memilih doa mana yang paling layak untuk dikabulkan.
Jika akhirnya kita tidak bersama, aku akan belajar menerima bahwa doa seorang ibu adalah perisai yang terlalu kuat untuk ditembus oleh doaku.
Penulis: Ibnu Marli
Tags
puisi
