Kegelisahan di Kota Pelajar: Sejarah Lahirnya HMI dan Cita-cita Lafran Pane


Kondisi Yogyakarta Pasca Kemerdekaan dan Kegelisahan Lafran Pane

Yogyakarta, akhir 1940-an. Kota ini belum sepenuhnya pulih dari hiruk-pikuk revolusi. Bangunan-bangunan masih menyimpan jejak perang, jalanan berdebu, dan para pemuda memenuhi sudut-sudut diskusi dengan wajah letih namun mata menyala. Di tengah suasana itulah, seorang mahasiswa bernama Lafran Pane diliputi kegelisahan yang tak biasa. Kemerdekaan telah diraih, tetapi arah bangsa—terutama peran umat Islam dan kaum intelektual muda—masih terasa samar.

Latar Belakang Lafran Pane: Dari Padang Sidempuan ke Yogyakarta

Lafran bukan tipe orator yang gemar berteriak. Ia lebih sering menyimak, mencatat, dan berpikir. Lahir di Padang Sidempuan, Sumatra Utara, pada 5 Februari 1923, Lafran tumbuh dalam keluarga yang menanamkan nilai keislaman dan kecintaan pada ilmu. Ia merantau ke Yogyakarta untuk belajar di Sekolah Tinggi Islam (STI), yang kelak menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Di kota pelajar itulah kesadaran intelektual Lafran menemukan momentumnya.

Peran Mahasiswa Islam dalam Awal Sejarah Indonesia Merdeka

Sebagai mahasiswa, Lafran menyaksikan fenomena yang membuatnya resah. Organisasi-organisasi mahasiswa tumbuh pesat, namun banyak di antaranya terjebak pada euforia politik semata. Di sisi lain, umat Islam—yang secara historis berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan—mulai terpinggirkan dalam diskursus kebangsaan. Lafran melihat adanya jurang antara nilai Islam dan cita-cita Indonesia merdeka.

Pemikiran Lafran Pane tentang Islam dan Keindonesiaan

Kegelisahan itu bukan sekadar wacana. Lafran meyakini bahwa mahasiswa Islam harus tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual, bukan hanya pelengkap sejarah. Dalam berbagai diskusi kecil, di serambi kampus atau kamar kos sederhana, ia menyampaikan pandangannya: Islam dan keindonesiaan bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan fondasi ideologis yang saling menguatkan.

Sejarah Berdirinya HMI pada 5 Februari 1947

Pada 5 Februari 1947, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-24, gagasan itu menjelma menjadi kenyataan. Bersama sejumlah mahasiswa, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi ini didirikan dengan dua tujuan utama: mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat umat Islam melalui pendidikan dan kaderisasi.

Sikap Lafran Pane terhadap Politik dan Kekuasaan

Di masa-masa awal, HMI bukan tanpa tantangan. Tuduhan ideologis, tekanan politik, hingga keterbatasan logistik menjadi bagian dari perjalanan organisasi. Namun Lafran menegaskan bahwa HMI tidak boleh menjadi alat politik praktis. Independensi organisasi mahasiswa, menurutnya, adalah syarat utama agar tetap kritis terhadap kekuasaan.

Gaya Kepemimpinan Lafran Pane yang Sederhana dan Berprinsip

Lafran Pane dikenal sebagai pemimpin yang tidak haus jabatan. Ia lebih memilih peran di balik layar, mendidik kader, dan membangun tradisi berpikir kritis. Kepemimpinan baginya bukan soal posisi struktural, melainkan konsistensi pada nilai dan keteladanan dalam sikap hidup.

Pengaruh Lafran Pane dan HMI dalam Sejarah Bangsa

Meski jarang tampil di panggung utama sejarah, pengaruh Lafran Pane terasa luas. Kader-kader HMI kemudian berkiprah di berbagai sektor: pendidikan, birokrasi, politik, ekonomi, dan masyarakat sipil. Mereka membawa semangat Islam yang moderat dan nasionalisme yang inklusif—dua nilai utama yang dirumuskan Lafran sejak awal.

Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional Indonesia

Selepas masa aktifnya di HMI, Lafran bekerja sebagai dosen dan pegawai negeri, tetap menjaga jarak dari kekuasaan. Ia wafat pada 25 Januari 1991. Pengakuan negara baru datang pada 2017, ketika Lafran Pane dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam bidang pemikiran, pendidikan, dan organisasi mahasiswa.

Di tengah tantangan era digital, polarisasi ideologi, dan krisis keteladanan, pemikiran Lafran Pane tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa ilmu harus berpihak pada nilai, dan mahasiswa harus menjadi penjaga moral bangsa. Dari kegelisahan seorang mahasiswa di Yogyakarta, lahir warisan pemikiran yang terus hidup dalam sejarah Indonesia.

Penulis: Muhammad Jazuli 



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama