Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan yang Tak Pernah Netral

Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan yang Tak Pernah Netral


Pada suatu masa ketika sekolah hanya boleh dimasuki segelintir orang, Ki Hajar Dewantara justru memilih berdiri di luar pagar. Bukan karena ia tak mampu masuk, melainkan karena ia sadar: pendidikan yang lahir dari ketimpangan tak pernah netral. Ia selalu berpihak—dan pada masa kolonial, pendidikan berpihak pada kekuasaan. Sekolah-sekolah Hindia Belanda dirancang untuk mencetak elite terdidik yang patuh, bukan manusia merdeka. Pengetahuan dijadikan privilese, bukan hak. Dari titik inilah Ki Hajar mulai membaca pendidikan bukan sebagai proses belajar semata, tetapi sebagai medan politik.

Dari Priyayi ke Rakyat Biasa

Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar tumbuh dalam lingkungan bangsawan Jawa. Ia mengenyam pendidikan Barat, menguasai bahasa Belanda, dan memahami cara berpikir kolonial. Namun alih-alih menjadi bagian dari sistem, ia justru memilih mengambil jarak kritis darinya. Keputusan menanggalkan gelar kebangsawanan dan menggunakan nama Ki Hajar Dewantara bukanlah simbol romantik. Itu adalah sikap ideologis. Ia menolak feodalisme yang juga hidup dalam sistem pendidikan. Bagi Ki Hajar, pendidikan yang memerdekakan hanya mungkin lahir dari kesetaraan.

Pena sebagai Bentuk Perlawanan

Kesadaran literasi Ki Hajar menemukan momentumnya melalui tulisan. Esainya yang terkenal, "Seandainya Aku Seorang Belanda", bukan sekadar kritik kebijakan, tetapi gugatan moral. Ia mempertanyakan logika penjajah yang merayakan kemerdekaannya di tanah yang dirampas dari bangsa lain. Tulisan itu membuktikan satu hal penting: literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan keberanian menyatakan sikap. Pemerintah kolonial memahami betul daya subversif kata-kata. Ki Hajar pun diasingkan. Dalam sejarah, pengasingan sering kali menjadi cara kekuasaan membungkam nalar.

Pengasingan dan Kesunyian yang Mendidik

Namun pengasingan ke Belanda tidak menjadikan Ki Hajar berhenti berpikir. Justru sebaliknya. Di sana, ia membaca lebih banyak, berdiskusi, dan menyerap gagasan pendidikan progresif yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek. Kesunyian menjadi ruang refleksi. Ki Hajar sampai pada kesimpulan bahwa bangsa terjajah tidak cukup hanya dibebaskan secara politik. Ia harus dibebaskan secara intelektual. Pendidikan, karenanya, harus melahirkan manusia yang sadar, bukan sekadar terampil.

Taman Siswa: Sekolah sebagai Ruang Pembebasan

Sepulang ke tanah air, Ki Hajar mewujudkan gagasannya melalui pendirian Taman Siswa pada 1922. Sekolah ini berdiri sebagai antitesis pendidikan kolonial. Tidak ada hierarki kaku, tidak ada jarak feodal antara guru dan murid. Semboyan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani lahir dari pengalaman konkret, bukan rumus pedagogik abstrak. Guru bukan penguasa pengetahuan, melainkan penuntun. Murid bukan wadah kosong, melainkan manusia yang sedang bertumbuh.

Literasi sebagai Kesadaran, Bukan Angka

Dalam pemikiran Ki Hajar, literasi tidak pernah berhenti pada kemampuan teknis. Ia adalah kesadaran kritis—kemampuan membaca realitas sosial dan menentukan sikap. Pendidikan yang baik tidak melahirkan kepatuhan, tetapi keberanian berpikir. Di titik ini, pemikiran Ki Hajar terasa kontras dengan praktik pendidikan hari ini. Literasi sering direduksi menjadi skor asesmen, indeks, dan laporan administratif. Sekolah sibuk mengejar capaian, tetapi lupa bertanya: untuk apa pengetahuan itu digunakan?

Simbol yang Dijinakkan

Nama Ki Hajar Dewantara kini diabadikan di mana-mana. Namun ironisnya, gagasannya kerap kehilangan daya kritis. Ia diperingati, tetapi tidak selalu dipraktikkan. Pendidikan kembali sibuk mencetak lulusan yang adaptif terhadap sistem, bukan manusia yang mampu mengoreksinya. Ki Hajar sejatinya bukan tokoh yang nyaman bagi kekuasaan. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan selalu mengandung pilihan politik: membebaskan atau menundukkan.

Pertanyaan yang Belum Selesai

Di tengah krisis pendidikan hari ini—ketika belajar terasa mekanis dan sekolah kehilangan makna—pemikiran Ki Hajar Dewantara kembali relevan. Ia tidak menawarkan metode instan, melainkan arah: bahwa tujuan akhir pendidikan adalah kemerdekaan manusia. Barangkali, warisan terbesar Ki Hajar bukanlah semboyan yang dihafal, tetapi pertanyaan yang terus mengusik: apakah pendidikan kita hari ini sungguh memerdekakan, atau justru sedang membangun pagar-pagar baru yang lebih halus?


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama