![]() |
| Ilustrasi: Tableau d’ Albert Camus oleh Jean-Loup Othenin-Girard. / Foto: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) |
Eksistensialisme berangkat dari satu klaim radikal: hidup tidak memiliki makna bawaan. Tidak ada esensi yang dititipkan Tuhan, negara, atau tradisi sebelum manusia hadir di dunia. Manusia lahir lebih dulu, baru kemudian—jika berani—menciptakan maknanya sendiri. Dalam bahasa Jean-Paul Sartre, existence precedes essence.
Dunia yang Tak Memberi Jawaban
Abad ke-20 menjadi panggung subur lahirnya eksistensialisme. Dua perang dunia, genosida, runtuhnya nilai-nilai lama, dan industrialisasi masif membuat manusia Eropa kehilangan pegangan. Rasionalitas yang dulu diagungkan justru melahirkan mesin pembunuh. Agama tak selalu memberi jawaban, negara sering berubah menjadi algojo. Di tengah kekacauan itu, filsafat yang menjanjikan kebenaran absolut terasa hampa. Eksistensialisme datang bukan untuk memberi kepastian, melainkan untuk mengakui ketidakpastian itu sendiri.
Bagi para eksistensialis, dunia tidak berkewajiban menjelaskan dirinya kepada manusia. Tidak ada makna objektif yang bisa ditemukan begitu saja. Hidup, pada dasarnya, absurd—tak masuk akal. Dan justru di situlah manusia diuji: menyerah, atau tetap memilih hidup dengan sadar.
Sartre dan Kutukan Bernama Kebebasan
Jean-Paul Sartre menjadi tokoh paling identik dengan eksistensialisme ateistik. Ia menolak gagasan bahwa manusia memiliki kodrat tetap. Tidak ada “takdir manusia” yang sudah ditentukan. Setiap individu sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Bagi Sartre, kebebasan bukan hadiah yang menyenangkan, melainkan kutukan. Manusia “dikutuk untuk bebas” karena tidak bisa lari dari pilihan. Bahkan ketika memilih untuk pasrah, itu tetap sebuah pilihan.
Masalahnya, kebebasan ini menakutkan. Ia menuntut tanggung jawab total. Tidak ada Tuhan, sistem, atau keadaan yang bisa dijadikan kambing hitam. Maka banyak orang memilih bersembunyi dalam apa yang Sartre sebut bad faith—ketidakjujuran pada diri sendiri. Mengaku “tidak punya pilihan”, padahal sebenarnya takut memilih. Eksistensialisme, dalam hal ini, bukan filsafat yang menenangkan. Ia justru memaksa manusia bercermin, mempertanyakan peran yang selama ini dijalani: apakah itu benar-benar pilihan, atau sekadar kepatuhan?
Camus dan Keberanian Melawan Absurditas
Jika Sartre berbicara tentang kebebasan, Albert Camus menyoroti absurditas. Dalam esainya The Myth of Sisyphus, Camus menggambarkan manusia seperti Sisyphus—tokoh mitologi Yunani yang dihukum mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali, berulang tanpa akhir. Hidup, bagi Camus, mirip hukuman itu. Rutinitas, kerja, kewajiban, dan kematian yang tak terhindarkan membuat usaha manusia tampak sia-sia.
Namun Camus menolak bunuh diri sebagai solusi. Justru di tengah absurditas itulah manusia harus memberontak—bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesadaran. “Membayangkan Sisyphus berbahagia,” tulis Camus. Kebahagiaan, di sini, bukan karena hidup menjadi masuk akal, tetapi karena manusia berhenti menuntut makna dari dunia dan mulai menciptakannya sendiri.
Eksistensialisme dan Manusia Hari Ini
Meski lahir puluhan tahun lalu, eksistensialisme terasa sangat dekat dengan generasi hari ini. Media sosial menjanjikan identitas instan, sistem ekonomi memaksa produktivitas tanpa henti, dan pilihan hidup justru semakin membingungkan. Di tengah kebebasan yang luas, manusia merasa semakin kosong.
Eksistensialisme tidak menawarkan jalan keluar instan. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan, apalagi kepastian. Yang ia tawarkan hanyalah kejujuran: bahwa hidup memang rapuh, tak pasti, dan sering kali tak adil. Namun justru karena itu, setiap pilihan menjadi bermakna. Makna hidup, dalam pandangan eksistensialis, bukan sesuatu yang ditemukan di luar diri. Ia diciptakan—melalui keputusan, tindakan, dan keberanian untuk bertanggung jawab. Di dunia yang tak memberi jawaban, manusia dipaksa menjadi penanya sekaligus penentu. Dan mungkin, di situlah kebebasan sejati berada.
