Merawat Spirit Dakwah Kampus: Refleksi Sarasehan dan Harlah LDK Rafiqil A’la

 

Di tengah dinamika kampus yang terus berubah, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Rafiqil A’la meneguhkan kembali perannya sebagai ruang pembinaan spiritual mahasiswa. Hal itu tercermin dalam kegiatan sarasehan yang digelar pada Sabtu, 17 Januari 2026, dengan tema “Dari Masa ke Masa: Menakar Peran LDK dalam Membentuk Karakter Mahasiswa”. Kegiatan ini berlangsung hangat dan reflektif, dipandu oleh Abdul Basith, serta menjadi forum perjumpaan gagasan lintas generasi dalam membaca ulang makna dakwah kampus.

Sarasehan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian harlah LDK Rafiqil A’la, tetapi juga menjadi ruang evaluasi bersama atas perjalanan organisasi dakwah di tengah realitas mahasiswa yang kerap mengalami pasang surut, baik secara akademik maupun spiritual. Sebagaimana organisasi kemahasiswaan lainnya, keanggotaan LDK bersifat fluktuatif—kadang tumbuh, di waktu lain menyusut. Namun kondisi tersebut tidak lantas memadamkan semangat dakwah. Justru di situlah LDK hadir sebagai ruang penguatan iman dan karakter, terutama bagi mahasiswa yang tengah mencari pijakan nilai dalam kehidupan kampus.

LDK Rafiqil A’la sendiri resmi berdiri pada 28 Desember 2013. Sejak awal, tujuan utamanya adalah membina mahasiswa agar tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam kehidupan akademik dan sosial. Seiring berjalannya waktu, gerak LDK tidak lagi terbatas pada dakwah keagamaan semata, tetapi juga merambah kegiatan sosial hingga pengembangan kewirausahaan. Hal ini menegaskan bahwa dakwah kampus memiliki spektrum yang luas dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.

Tantangan utama yang dihadapi LDK hari ini adalah bagaimana merawat konsistensi dan sekaligus menghadirkan inovasi. Istiqamah dalam gerakan dakwah bukanlah kerja individual, melainkan kesadaran kolektif yang harus dijaga bersama oleh pengurus dan anggota. Melalui berbagai program seperti studi banding dan rihlah, LDK berupaya memperluas wawasan, mempererat silaturahmi, sekaligus menyuntikkan gagasan baru dalam pengelolaan organisasi. Ungkapan “setiap orang ada masanya, dan setiap masa memiliki momentumnya” menjadi refleksi penting bahwa keberlangsungan dakwah menuntut kesiapan menghadapi perubahan zaman.

Nama Rafiqil A’la sendiri lahir dari hasil musyawarah bersama, atas usulan Bapak Abdur Rofiq Al-Hidayah dan Gus Madarik Yahya, yang kemudian disepakati sebagai identitas organisasi. Nama ini diambil dari kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah SAW, sarat makna spiritual dan harapan agar LDK senantiasa berada di jalan yang diridai Allah SWT.

Pada masa awal kepengurusan Kang Syifa’ur, konsep dasar (mabda’ah) kegiatan LDK banyak dilaksanakan di wilayah kota dan sempat bersinergi dengan aktivitas dakwah di Universitas Brawijaya (UB). Dalam diskusi sarasehan, peserta menyoroti sejarah LDK sebagai lebih dari sekadar wadah dakwah. LDK dipandang sebagai ruang pengingat dan pembentukan karakter mahasiswa. Berbagai strategi untuk menjaga semangat pengurus dan anggota turut dibahas.

Secara umum, kegiatan LDK terbagi menjadi dua bentuk: kegiatan gebyar yang bersifat insidental dan kegiatan rutin yang menuntut konsistensi tinggi. Tantangan terbesar justru terletak pada agenda rutin, karena membutuhkan tindak lanjut berkelanjutan serta kekompakan internal. Prinsip yang ditekankan adalah menata dan menertibkan internal organisasi sebelum memperluas gerakan ke luar.

Perbincangan juga mengarah pada metode dakwah kampus. Kang Syifa’ur menekankan pentingnya pendekatan personal, yakni dakwah yang berangkat dari pemahaman terhadap kebutuhan dan kondisi individu. Sementara itu, Bapak Abdur Rofiq menyoroti urgensi pemanfaatan media sosial dan isu-isu aktual sebagai sarana dakwah, sebagaimana strategi promosi dalam media massa. Kedua pandangan tersebut menunjukkan bahwa dakwah kampus perlu adaptif tanpa kehilangan nilai-nilai esensialnya.

Rangkaian sarasehan ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ketua Umum LDK Rafiqil A’la, Ning Azharun Nabila, didampingi Bapak Abdur Rofiq, M.Pd. selaku pembina. Acara dilanjutkan dengan mau‘izhah hasanah oleh Ustadz M. Syaiful Bahri, S.Sos., (AKSI Indosiar 2023), yang mengangkat tema “Merawat Spirit Dakwah Kampus untuk Membangun Generasi Beriman dan Berilmu”.

Sekitar 40 peserta hadir dengan antusias, termasuk Ketua Umum FSLDK Malang Raya, Akhi Izzuddin, serta beberapa ketua umum demisioner seperti Kang Bayhaki dan Ning Aisyah. Dalam tausiyahnya, Ustadz M. Syaiful Bahri menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai aktor perubahan, seraya mengutip ungkapan “Syubbanul yaum rijalul ghad”—pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ia juga berdialog dengan audiens mengenai cita-cita mereka serta memperkenalkan komunitas dakwah MTD (Tilawah Dakwah), yang telah melahirkan prestasi nasional, salah satunya Juara 2 AKSI Indosiar 2025 atas nama Ustadzah Lutfiya Kharisma.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelantikan pengurus LDK Rafiqil A’la periode 2026–2027 oleh Ketua Umum FSLDK Malang Raya dan ditutup dengan lantunan Maulid Nabi oleh UKM As-Surur. Sarasehan ini menjadi penanda bahwa dakwah kampus bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan ikhtiar berkelanjutan untuk merawat nilai, membangun karakter, dan menyiapkan generasi mahasiswa yang beriman, berilmu, serta berdaya guna.

Penulis: Abdul Basith (Mahasiswa Tadris bahasa Indonesia Universitas Al-Qolam Malang dan Anggota LDK Rafiqil A'la bidang Syi'ar dan Dakwah)

Redaktur: Muhammad Jazuli 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama