![]() |
| Jacques-Louis David, “The Death of Socrates” (1787), The Metropolitan Museum of Art. / Foto: Wikimedia Commons / Public domain. |
Nalarmerdeka.online - Sejak kapan manusia mulai bertanya tentang hidup? Bukan sekadar bagaimana cara bertahan, tetapi mengapa harus bertahan. Pertanyaan semacam ini tidak lahir dari ruang kelas atau buku tebal, melainkan dari kegelisahan paling purba manusia saat berhadapan dengan alam, waktu, dan kematian. Dari kegelisahan itulah filsafat bermula—sebagai usaha memahami dunia dan diri dengan akal budi. Sejarah filsafat, karena itu, bukanlah daftar nama besar atau urutan zaman yang kaku. Ia adalah catatan panjang tentang manusia yang terus bertanya, meragukan, dan mencari makna di tengah perubahan realitas.
Dari Mitos ke Logos: Lahirnya Filsafat Yunani Kuno
Filsafat Barat kerap ditelusuri ke Yunani Kuno, ketika cara berpikir mitologis perlahan digeser oleh penalaran rasional. Thales dari Miletos bertanya tentang asal-usul alam tanpa melibatkan dewa-dewi. Baginya, air adalah prinsip dasar dari segala sesuatu. Setelahnya, Heraclitus berbicara tentang perubahan yang abadi, sementara Pythagoras melihat keteraturan dunia melalui angka. Di titik ini, filsafat lahir sebagai keberanian intelektual: berpikir berbeda dari keyakinan yang mapan. Logos menggantikan mitos, dan akal manusia mulai dipercaya sebagai alat memahami realitas.
Socrates dan Etika Bertanya tentang Hidup
Pergeseran besar terjadi bersama Socrates. Ia tidak sibuk membangun teori kosmologi, melainkan mengajukan pertanyaan sederhana namun mengganggu: bagaimana seharusnya manusia hidup? Melalui dialog dan ironi, Socrates mendorong orang untuk memeriksa keyakinannya sendiri. Baginya, hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Filsafat bukan urusan menara gading, melainkan praktik etis sehari-hari. Keberanian Socrates mempertanyakan nilai-nilai umum justru mengantarkannya pada hukuman mati—sebuah pengingat bahwa berpikir kritis kerap dianggap ancaman.
Plato, Aristoteles, dan Fondasi Peradaban
Plato, murid Socrates, lalu merumuskan filsafat dalam sistem gagasan tentang dunia ide, kebenaran, dan keadilan. Sementara Aristoteles membumikan filsafat dengan menyusun logika, etika, politik, dan ilmu pengetahuan. Pemikirannya menjadi fondasi bagi perkembangan sains dan filsafat selama berabad-abad. Pada fase ini, filsafat bukan hanya soal pertanyaan, tetapi juga usaha membangun tatanan berpikir yang sistematis bagi peradaban.
Akal dan Iman: Filsafat di Abad Pertengahan
Memasuki Abad Pertengahan, filsafat kerap dianggap tenggelam di bawah dominasi agama. Namun anggapan itu terlalu sederhana. Justru pada masa ini terjadi dialog intens antara akal dan iman. Di Eropa, Agustinus dan Thomas Aquinas berusaha mendamaikan filsafat Yunani dengan teologi Kristen. Filsafat tidak dimatikan, melainkan diarahkan untuk memahami iman secara rasional. Akal dan wahyu diposisikan bukan sebagai musuh, tetapi sebagai mitra.
Jejak yang Sering Dilupakan: Filsafat dalam Peradaban Islam
Di saat yang sama, dunia Islam menjadi ruang subur bagi perkembangan filsafat. Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menerjemahkan, mengembangkan, dan mengkritik pemikiran Yunani. Mereka tidak sekadar menjadi penjaga warisan, tetapi juga pencipta gagasan baru. Sayangnya, kontribusi filsafat Islam sering terpinggirkan dalam narasi sejarah yang Barat-sentris. Padahal, tanpa peran mereka, banyak karya Aristoteles mungkin tak pernah sampai ke Eropa. Sejarah filsafat sejatinya adalah sejarah lintas peradaban.
Manusia sebagai Pusat: Filsafat Zaman Modern
Zaman modern ditandai runtuhnya otoritas lama dan bangkitnya rasio manusia. René Descartes membuka era ini dengan keraguannya yang radikal: cogito ergo sum. Manusia menjadi pusat pengetahuan. Perdebatan lalu berkembang antara rasionalisme dan empirisme melalui Locke dan Hume, hingga Immanuel Kant mencoba mensintesiskan keduanya dengan menunjukkan batas-batas akal. Filsafat modern sarat optimisme: manusia diyakini mampu memahami dan menguasai dunia lewat ilmu pengetahuan.
Luka Sejarah dan Kritik Radikal: Filsafat Kontemporer
Optimisme itu retak di hadapan perang, kolonialisme, dan ketimpangan sosial. Filsafat kontemporer lahir dari luka sejarah. Karl Marx mengkritik struktur ekonomi yang menindas, Nietzsche menggugat moralitas lama, sementara Sartre dan Camus berbicara tentang manusia yang terlempar ke dunia tanpa makna pasti. Michel Foucault kemudian membongkar relasi kuasa dan pengetahuan, menunjukkan bahwa kebenaran sering kali lahir dari kepentingan. Filsafat tak lagi menawarkan jawaban tunggal, melainkan kritik terhadap apa yang selama ini dianggap normal.
Mengapa Sejarah Filsafat Masih Penting Hari Ini?
Di tengah banjir informasi, hoaks, dan polarisasi opini, sejarah filsafat mengajarkan satu hal mendasar: berpikir kritis adalah keharusan. Filsafat membantu kita membaca realitas dengan lebih hati-hati, tidak menelan kebenaran secara mentah. Ia mengingatkan bahwa kemajuan lahir dari keberanian meragukan, bukan dari kepatuhan buta.
Merawat Pertanyaan: Filsafat sebagai Praktik Kemerdekaan
Sejarah filsafat bukan garis lurus menuju kebenaran final. Ia adalah dialog panjang manusia dengan zamannya. Setiap generasi mewarisi pertanyaan, bukan jawaban pasti. Mungkin filsafat tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan hidup. Namun tanpanya, manusia kehilangan keberanian untuk bertanya. Dan selama pertanyaan itu terus dirawat, filsafat akan tetap hidup—sebagai praktik berpikir, dan sebagai bentuk kemerdekaan paling sunyi.
Penulis: Muhammad Jazuli
