Wiji Thukul: Puisi, Perlawanan, dan Negara yang Tak Pernah Menjawab

Puisi itu terus dibacakan, dari mulut ke mulut, dari satu aksi ke aksi lainnya. Kadang dicetak di poster lusuh, kadang dicoretkan di tembok kota. Banyak yang hafal baitnya, meski tak semua tahu siapa penulisnya. “Hanya ada satu kata: lawan.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat sebuah rezim merasa terancam.

Dari Lorong Sempit Solo ke Ruang Publik

Wiji Thukul bukan penyair yang lahir dari ruang nyaman. Ia tumbuh dari lorong-lorong sempit Solo, dari keluarga sederhana, sebagai anak tukang becak. Hidupnya bersinggungan langsung dengan kemiskinan, ketidakpastian, dan ketimpangan. Dari sanalah puisinya berangkat—tanpa metafora rumit, tanpa bahasa berlapis. Puisinya berbicara sebagaimana rakyat berbicara: jujur, lugas, dan kadang marah.

Puisi sebagai Alat Perlawanan

Pada masa Orde Baru, ketika kebebasan berekspresi dipersempit oleh sensor dan represi, seni dan sastra tidak pernah benar-benar netral. Negara menuntut kepatuhan, bukan kritik. Dalam situasi itu, kata-kata bisa berubah menjadi ancaman. Puisi, yang seharusnya menjadi ekspresi personal, menjelma alat perlawanan politik. Dan Wiji Thukul memilih berdiri di sisi itu—bersama mereka yang suaranya jarang didengar.

Kata-kata yang Mengancam Kekuasaan

Berbeda dengan tradisi sastra yang kerap elitis, puisi-puisi Thukul justru menolak jarak dengan pembacanya. Ia menulis tentang buruh, petani, dan orang-orang kecil yang hidupnya kerap luput dari perhatian kekuasaan. Dalam puisinya, negara digambarkan bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai tembok yang membungkam. Tembok itu tinggi, dingin, dan tak mau mendengar suara dari bawah. Puisi seperti _Peringatan_ dan _Bunga dan Tembok_ tidak hanya dibaca di ruang sastra, tetapi juga di jalanan, di forum-forum diskusi bawah tanah, dan di tengah aksi massa. Di situlah negara mulai merasa resah.

Penghilangan yang Tak Pernah Dijawab

Tahun 1998 menjadi titik paling gelap. Di tengah runtuhnya Orde Baru, Wiji Thukul dinyatakan hilang. Hingga kini, keberadaannya tidak pernah dijelaskan secara resmi. Negara memilih diam. Tidak ada jawaban yang memadai, tidak ada pertanggungjawaban. Penghilangan itu bukan sekadar kehilangan satu orang, melainkan luka kolektif yang belum pernah disembuhkan.

Warisan yang Tak Bisa Dibungkam

Meski demikian, Wiji Thukul tidak benar-benar hilang. Puisinya terus muncul di ruang publik. Dalam aksi mahasiswa, di mural-mural kota, di media sosial, hingga dalam lagu-lagu perlawanan. Generasi yang bahkan tidak pernah hidup di masa Orde Baru tetap menemukan relevansi dalam kata-katanya. Karena ketidakadilan belum sepenuhnya pergi, dan pembungkaman masih menemukan bentuk-bentuk barunya.

Puisi sebagai Perlawanan Abadi

Di tengah situasi demokrasi yang kerap dipertanyakan, puisi Wiji Thukul kembali mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi bukan hadiah, melainkan sesuatu yang terus diperjuangkan. Bahwa kritik bukan ancaman bagi negara yang sehat, melainkan fondasi bagi kehidupan publik yang adil. Wiji Thukul mungkin telah dihilangkan secara fisik. Namun, kata-katanya menolak mati. Ia hidup dalam ingatan, dalam perlawanan kecil sehari-hari, dan dalam keberanian untuk terus bersuara.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama