Universitas Brawijaya: Sejarah, Identitas, dan Jejak Inisiatif Daerah

Tampak udara Universitas Brawijaya, Malang, sebagai salah satu perguruan tinggi negeri besar di Indonesia yang lahir dari inisiatif dan semangat daerah. / Foto: Seru.co.id / Wikimedia Commons

Nalarmerdeka.online - Pagi hari di Jalan Veteran, Malang, selalu dimulai dengan ritme yang sama. Mahasiswa berseragam almamater cokelat bergegas menuju kelas, sepeda motor berlalu-lalang, dan gedung-gedung fakultas berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang sebuah institusi bernama Universitas Brawijaya (UB). Bagi sebagian orang, UB adalah kampus besar dengan reputasi nasional. Namun di balik itu, ada sejarah panjang yang lahir dari semangat daerah, perjuangan kolektif, dan hasrat membangun pendidikan tinggi yang merdeka.

Universitas Brawijaya tidak lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh dari pinggiran, dari kegelisahan daerah yang sadar bahwa masa depan bangsa hanya bisa dibangun lewat pendidikan.

Akar Sejarah: Perguruan Tinggi dari Rahim Daerah

Cikal bakal Universitas Brawijaya bermula pada tahun 1957 dengan berdirinya Perguruan Tinggi Malang (PTM). Saat itu, Malang—sebagai salah satu kota pendidikan di Jawa Timur—menyimpan kebutuhan mendesak akan institusi pendidikan tinggi yang dapat menampung lulusan sekolah menengah dan mencetak tenaga intelektual bagi pembangunan daerah. PTM bukan proyek elitis. Ia lahir dari kolaborasi tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah.

Dalam konteks Indonesia pasca-kemerdekaan, pendirian PTM mencerminkan semangat otonomi intelektual: bahwa daerah memiliki hak dan kemampuan untuk membangun pusat ilmu pengetahuan sendiri, tanpa selalu bergantung pada Jakarta. Perjuangan itu menemukan momentumnya pada awal 1960-an. Melalui berbagai proses administratif dan politik, PTM kemudian dinegerikan dan resmi menjadi Universitas Brawijaya pada tahun 1963. Sejak saat itu, UB berdiri sebagai perguruan tinggi negeri yang membawa identitas sejarah dan budaya lokal ke panggung nasional.

Nama “Brawijaya”: Identitas dan Simbol Sejarah

Pemilihan nama Brawijaya bukan keputusan sembarangan. Nama ini merujuk pada raja-raja Majapahit—simbol kejayaan Nusantara, pusat peradaban, dan kekuatan intelektual-politik masa lampau. Dalam konteks pendidikan, Brawijaya bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan penanda harapan: agar universitas ini menjadi pusat lahirnya pemimpin, pemikir, dan penggerak perubahan.

Nama tersebut juga menegaskan bahwa Universitas Brawijaya tidak tercerabut dari akar kebudayaan Jawa dan Nusantara. Ia hadir bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai penjaga nilai, identitas, dan kesadaran sejarah. Pertanyaannya kemudian: sejauh mana nilai-nilai itu masih hidup dalam denyut kampus hari ini?

Dari Fakultas Awal ke Kampus Multidisipliner

Pada masa awal, Universitas Brawijaya hanya memiliki beberapa fakultas inti, seperti Hukum, Ekonomi, dan Pertanian. Namun seiring waktu, UB berkembang pesat menjadi universitas multidisipliner dengan puluhan fakultas, program studi, serta pusat riset yang menjangkau berbagai bidang—dari sains dan teknologi hingga humaniora dan ilmu sosial. Pertumbuhan ini menempatkan UB sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Indonesia.

Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang setiap tahun, menjadikan kampus ini ruang pertemuan ide, identitas, dan latar sosial yang beragam. Di titik ini, UB tak lagi sekadar kampus daerah. Ia menjelma menjadi simpul intelektual nasional, dengan peran strategis dalam riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kampus dan Gerakan Mahasiswa: Ruang Dialektika yang Tak Pernah Sunyi

Sejarah Universitas Brawijaya tidak bisa dilepaskan dari dinamika gerakan mahasiswa. Kampus ini sejak lama menjadi ruang dialektika—tempat ide-ide kritis bertumbuh, beradu, dan terkadang berseberangan dengan kekuasaan. Mahasiswa UB pernah dan terus menjadi bagian dari denyut sosial-politik, baik dalam isu lokal maupun nasional. Dari advokasi kebijakan publik, kritik terhadap komersialisasi pendidikan, hingga isu demokrasi kampus, UB menyimpan jejak panjang perlawanan gagasan.

Dalam konteks ini, universitas bukan sekadar tempat belajar, melainkan arena pembentukan kesadaran kritis. Sebuah fungsi yang kerap diuji ketika kampus berhadapan dengan birokrasi, kepentingan pasar, dan logika efisiensi semata.

Universitas Brawijaya Hari Ini: Reputasi dan Tantangan

Hari ini, Universitas Brawijaya berdiri dengan reputasi akademik yang diperhitungkan. Peringkat, akreditasi, dan capaian riset menjadi indikator keberhasilan institusional. Namun di balik capaian itu, tantangan tak bisa diabaikan. Komersialisasi pendidikan, mahalnya biaya kuliah, serta jarak antara idealisme pendidikan dan realitas birokrasi kampus menjadi persoalan yang terus diperdebatkan.

Di sinilah sejarah menjadi penting—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai cermin. UB lahir dari semangat rakyat dan daerah. Ia tumbuh dari gagasan bahwa pendidikan adalah hak, bukan komoditas. Menjaga semangat itu di tengah arus neoliberalisme pendidikan adalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Universitas Brawijaya bukan sekadar kumpulan gedung dan kurikulum. Ia adalah hasil dari perjuangan, pilihan sejarah, dan cita-cita kolektif. Menjadi besar tidak berarti lupa asal-usul. Justru di situlah tantangannya. Sejarah UB mengajarkan satu hal penting: bahwa universitas sejatinya adalah ruang nalar, keberpihakan, dan tanggung jawab sosial. Selama nilai-nilai itu masih dirawat, Universitas Brawijaya akan tetap relevan—bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai penjaga akal sehat publik.

Penulis: Muhammad Jazuli 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama