Budaya Literasi untuk Kalimantan Barat: Seorang Perantau Membayangkan Masa Depan


Budaya Literasi untuk Kalimantan Barat: Seorang Perantau Membayangkan Masa Depan
Tugu Khatulistiwa Pontianak Kalimantan Barat 
Sumber: Muhammad Jazuli

Dengan segala sumber daya yang dimiliki, Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional. Kekayaan alam yang melimpah, letak geografis yang strategis, serta keberagaman budaya yang dimiliki masyarakatnya merupakan modal yang sangat berharga. Apalagi dengan ditetapkannya salah satu provinsi di Kalimantan sebagai Ibu Kota Nusantara (IKN), harapan akan lahirnya pusat-pusat pertumbuhan baru di Kalimantan semakin nyata. Arus kedatangan orang-orang dari luar, dengan segala keilmuan, pengalaman, dan jaringan yang mereka bawa, tentu akan menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius.

Di satu sisi, akan tercipta banyak lapangan pekerjaan baru yang bisa mengurangi angka pengangguran. Kehadiran investor, akademisi, dan para pekerja profesional berpotensi mendorong munculnya inovasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, hingga membuka sektor usaha baru. Namun, di sisi lain, kita juga harus sadar: jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi penonton atau sekadar pekerja di tanah sendiri, sementara sektor-sektor strategis dikuasai oleh para pendatang. Kalimantan Barat seharusnya menempatkan masyarakatnya sebagai aktor utama pembangunan. Anak-anak muda, pelaku UMKM, petani, nelayan, hingga akademisi lokal harus menjadi pemilik usaha, pencipta lapangan kerja, sekaligus penggerak utama roda perekonomian di kampung halamannya sendiri.

Untuk menghadapi arus kedatangan orang-orang dari luar tersebut, Kalimantan Barat membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, tangguh, dan siap bersaing di berbagai bidang. SDM yang kuat hanya bisa dibangun melalui proses panjang, salah satunya dengan memperkuat budaya literasi serta memperbanyak ruang-ruang diskusi produktif. Dengan literasi yang tinggi, masyarakat tidak hanya lebih cerdas dalam berpikir kritis, tetapi juga lebih siap dalam menciptakan inovasi, membuka peluang usaha kreatif, serta mempertahankan identitas lokal di tengah arus perubahan global yang begitu cepat.

Namun pada kenyataannya, sebagai bagian dari generasi muda Kalimantan Barat sekaligus saksi sejarah, saya melihat bahwa akses terhadap buku gratis untuk anak-anak masih sangat minim. Perpustakaan yang mudah dijangkau dan nyaman belum banyak tersedia, ruang-ruang diskusi yang terbuka bagi semua kalangan pun masih sangat sulit ditemukan. Bahkan jika berbicara mengenai teori-teori besar seperti Filsafat Ilmu, Feminisme, atau Teologi Pembebasan, seringkali hal itu dianggap asing dan sulit dipahami. Hal ini wajar, sebab bagi mereka yang tidak pernah “berjabat tangan” dengan tokoh-tokoh dan gagasan besar melalui buku atau forum diskusi, istilah-istilah tersebut terdengar membosankan dan tidak relevan.

Sebagai pemuda Kalimantan yang menghabiskan seperempat hidup di Malang, saya banyak terinspirasi oleh kuatnya budaya literasi di kota itu. Saya membayangkan Pontianak bisa menjadi kota yang asik dan nyaman untuk membaca buku, dengan memanfaatkan banyak ruang publik yang sebenarnya sangat potensial. Waterfront City yang adem dengan pemandangan sungai Kapuas, Barau atau Tepian Tambelan Sampit yang tenang, Tugu Khatulistiwa yang ikonik, hingga Taman Digulis yang rindang—semuanya bisa difungsikan sebagai tempat membaca, berdiskusi, sekaligus menikmati suasana kota yang damai.

Seperti di Malang, saya melihat tempat-tempat diskusi di sana tumbuh dengan alami. Komunitas-komunitas literasi hadir dengan semangat gotong royong, lapak baca gratis hadir di berbagai sudut taman. Anak-anak muda bebas duduk melingkar, membaca buku bersama, lalu melanjutkan dengan diskusi ide-ide segar. Hal inilah yang membuat akses pengetahuan terasa begitu dekat dan menyenangkan.

Saya selalu membayangkan anak-anak muda Pontianak seperti itu: membawa buku ke tepian sungai, duduk di bawah pohon besar di Taman Digulis sembari membaca Madilog, berdiskusi ringan tentang isu-isu terkini, atau sekadar menikmati sore hari di Waterfront dengan latar matahari terbenam. Dengan begitu, membaca dan berdiskusi tidak lagi dianggap kegiatan kaku, melainkan bagian dari gaya hidup urban Kalimantan Barat yang santai, kreatif, berbudaya, dan berwawasan luas.

Dengan membayangkan Kalimantan Barat seperti ini, saya yakin kita tidak hanya membangun sebuah provinsi yang siap bersaing di tingkat nasional, tetapi juga menciptakan rumah yang hangat bagi setiap ide, tempat yang ramah bagi impian, sekaligus ruang yang subur bagi lahirnya masa depan yang lebih cerah.


Penulis: Muhammad Jazuli (Owner Nalar Merdeka)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama